Recent Post

Selasa, 06 November 2012

PQ - IQ - EQ - SQ



PQ - IQ - EQ - SQ Empat Type Kecerdasan Manusia Sejak terlahir, setiap manusia telah dianugerahi empat macam type kecerdasan, yaitu :

* Kecerdasan Fisik atau Tubuh (Physical Intelligence atau Physical Quotient PQ),
* Kecerdasan Mental atau Intelektual (Inteliligence Quotient IQ),
* Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient EQ) , dan
* Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient SQ)

1. Kecerdasan Fisik (Physical Quotient – PQ)

Kecerdasan Fisik (PQ) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh tubuh kita. Kita sering tidak memperhitungkannya. Coba renungkan : Tanpa adanya perintah dari kita tubuh kita menjalankan sistem pernafasan, sistem peredaran darah, sistem syaraf dan sistem-sistem vital lainnya.

Tubuh kita terus menerus memantau lingkungannya, menghancurkan sel pembawa penyakit, mengganti sel yang rusak dan melawan unsur-unsur yang mengganggu kelangsungan hidup. Seluruh proses itu berjalan di luar kesadaran kita dan berlangsung setiap saat dalam hidup kita. Ada kecerdasan yang menjalankan semuanya itu dan sebagian besar berlangsung di luar kesadaran kita.

2. Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient – IQ)

IQ adalah kemampuan nalar, atau pikiran orang sering menyebutnya dengan kemampuan Otak Kiri. Yaitu kemampuan kita untuk mengetahui, memahami, menganalisis, menentukan sebab akibat, berpikir abstrak, berbahasa, memvisualkan sesuatu.

Di zaman dulu IQ dijadikan ukuran utama kecerdasan seseorang. Baru kemudian disadari bahwa konsep dan batasan-batasan di atas seperti itu terlalu mempersempit kecerdasan tersebut.

Otak kiri bertanggung jawab untuk “”pekerjaan” verbal, kata-kata, bahasa, angka-angka, matematika, urut-urutan, logika, analisa dan penilaian dengan cara berpikir linier.
Melatih dan membelajarkan otak kiri akan membangun kecerdasan intelektual (IQ). Otak kanan bertanggungjawab dan berkaitan dengan gambar, warna, musik, emosi, seni/artistik, imajinasi, kreativitas, dan intuitif.
Menurut para ahli IQ - Intelligence Quotient, dapat ditingkatkan dengan latihan sederhanadan mengubah kebiasaan-kebiasaan tertentu, caranya sebagai berikut :
Latihan pernapasan dalam
Pernapasan dalam meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak, juga merilekskan kita sehingga meningkatkan fungsi efektif otak. Cara melakukanya mudah, pejamkan mata dan tarik nafas lewat hidung, sehingga paru-paru dipenuhkan sampai kapasitasnya, lalu hembuskan secara perlahan.

Saat melakukan pernapasan dalam hilangkan semua pikiran yang masuk kedalam kepala anda. Coba jangan pikirkan apapun kecuali efek penenangan dan perileksan dari saraf dan tubuh. Cara ini sangat berguna dan efektif untuk menyelesaikan masalah secara kreatif.
Ketika anda selesai melakukan latihan yang hanya perlu waktu 2 sampai 4 menit ini, kemampuan anda untuk menyelesaikan masalah akan meningkat paling sedikit 80%. Pikiran akan merasa jernih dalam sekejap jika dilakukan hanya 5 kali berturut-berturut, anda juga akan lebih bisa mengkoordinasikan pemikiran sehingga menjadi lebih jelas.
Jaga postur tubuh
Postur tubu dapat menentukan seberapa baik anda berfungsi. Berdiri bungkuk dan mulut terbuka mengurangi kemampuan berpikir jernih.Untuk membuktikan hal ini, coba duduk membungkuk dengan mulut terbuka sambil menyelesaikan soal matematika didalam pikiran.Kemungkinan anda akan menemukan, anda tidak bisa menyelesaikan masalah secara cepat dan tidak bisa berfikir secara jernih. 
Lakukan olahraga untuk membantu meningkatkan aliran darah ke otak. Aerobik apa saja bisa memberikan hasiat ini.
Perhatikan makanan
Jangan makan segala sesuatu yang mengandung gula sederhana secara berlebihan. Semua karbohidrat sederhana, jika dimakan sejumlah banyak, secara umum membuat lelah yang bukan hanya akan membuat anda lebih lamban dalam berpikir, tapi juga membuat lamban secara fisik.
3. Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient – EQ)
EQ adalah pengetahuan mengenai diri sendiri, kesadaran diri, kepekaan sosial, empati dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Kecerdasan Emosi adalah kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara sosial, dan keberanian untuk mengakui kelemahan, menyatakan dan menghormati perbedaan. EQ digambarkan sebagai kemampuan otak kanan dan dianggap lebih kreatif, tempat intuisi, pengindraan, dan bersifat holistik atau menyeluruh

Penggabungan pemikiran (otak kiri) dan perasaan (otak kanan) akan menciptakan keseimbangan, penilaian dan kebijaksanaan yang lebih baik. Dalam jangka panjang, kecerdasan emosional akan merupakan penentu keberhasilan dalam berkomunkasi, relasi dan dalam kepemimpinan dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (nalar).
Seseorang yang memiliki IQ tinggi tetapi memiliki kecerdasan emosionalnya (EQ) rendah, dia tidak tahu bagaimana membangun hubungan dengan orang lain. Orang itu mungkin akan menutupi kekurangannya itu dengan bersandar pada kemampuan intelektualnya dan akan mengandalkan posisi formalnya.
Pengertian EQ : Istilah kecerdasan emosi (EQ) baru dikenal secara luas pada pertengahan tahun 1990 dengan diterbitkannya buku Darnel Goleman : Emotional Intelligence. Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosi (Emotional Intellegence) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
Menggunakan ungkapan Howard Gardner, kecerdasan emosi terdiri dari kecakapan, diantaranya : intrapersonal intelligence dan interpersonal intellegence. Intrapersonal intelligence merupakan kecakapan mengenali perasaan kita sendiri yang terdiri dari :
Kesadaran diri meliputi : keadaan emosi diri, penilaian pribadi,  percaya diri.
Pengaturan diri meliputi : pengendalian diri, dapat dipercaya, waspada adaptif dan inovatif.
Motivasi meliputi : dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif  dan optimis.
Sedangkan interpersonal intelligence merupakan kecakapan berhubungan dengan orang lain yang terdiri dari :
Empati meliputi : memahami orang lain, pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan kesadaran politis.
Ketrampilan sosial meliputi : pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan koperasi serta kerja team.
 > Tiga langkah kembangkan EQ (Emotional Quotient) :
1. Membuka hati : ini adalah langkah pertama karena hati adalah simbol pusat emosi. Hati kitalah yang merasa damai saat kita berbahagia, hati kita merasa tidak nyaman ketika sakit, sedih, marah atau patah hati. Kita mulai dengan membebaskan pusat perasaan kita dari impuls dan pengaruh yang membatasi kita untuk menunjukkan cinta satu sama lain.
2. Menjelajahi dataran emosi : sekali kita telah membuka hati, kita dapat melihat kenyataan dan menemukan peran emosi dalam kehidupan. Kita dapat berlatih cara mengetahui apa yang kita rasakan. Kita mengetahui emosi yang dialami orang lain. Singkatnya, kita menjadi lebih baik dan bijak menanggapi perasaan kita dan perasaan orang di sekitar kita.
3. Mengambil tanggung jawab : untuk memperbaiki dan mengubah kerusakan hubungan, kita harus mengambil tanggung jawab. Kita dapat membuka hati kita dan memahami peta dataran emosional orang di sekitar kita.
Jika seseorang mempunyai hubungan dengan Tuhannya baik maka bisa dipastikan hubungan dengan sesama manusiapun akan baik pula.***


4. Kecerdasan Spriritual (Spiritual Quotient – SQ)

Sebagaimana EQ, maka SQ juga merupakan arus utama dalam kajian dan diskusi folosofis dan psikologis. Kecerdasan spiritual merupakan pusat dan paling mendasar di antara kecerdasan lainnya, karena dia menjadi sumber bimbingan atau pengarahan bagi tiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan kita akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas.

Kecerdasan Spiritual juga membantu kita untuk mencerna dan memahami prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian dari nurani kita, yang dapat dilambangkan sebagai kompas. Kompas merupakan gambaran fisik yang bagus sekali bagi prinsip, karena dia selalu menunjuk ke arah utara.

Kecerdasan spiritual (spiritual intellegence)

Selama ini, yang namanya “kecerdasan” senantiasa dikonotasikan dengan Kecerdasan Intelektual” atau yang lazim dikenal sebagai IQ saja (Intelligence Quotient). Namun pada saat ini, anggapan bahwa kecerdasan manusia hanya tertumpu pada dimensi intelektual saja sudah tidak berlaku lagi. Selain IQ, manusia juga masih memiliki dimensi kecerdasan lainnya, diantaranya yaitu : Kecerdasan Emosional atau EQ (Emotional Quotient) dan Kecerdasan Spiritual atau SQ (Spiritual Quotient). Memasuki abad 21, legenda IQ (Intelligence Quotient) sebagai satu-satunya tolok ukur kecerdasan yang juga sering dijadikan parameter keberhasilan manusia, digugurkan oleh munculnya konsep Kecerdasan Emosional atau EQ (Emotional Quotient) dan Kecerdasan Spiritual atau SQ (Spiritual Quotient). Kecerdasan perawat ternyata lebih luas dari anggapan yang dianut selama ini. Kecerdasan perawat bukanlah merupakan suatu hal yang bersifat dimensi tunggal semata, yang hanya bisa diukur dari satu sisi dimensi saja (dimensi IQ). Kesuksesan perawat dan juga kebahagiaannya, ternyata lebih terkait dengan beberapa jenis kecerdasan selain IQ. Menurut hasil penelitian, setidaknya 75% kesuksesan manusia lebih ditentukan oleh  kecerdasan emosionalnya (EQ) juga kecerdasan spiritualnya (SQ) dan hanya 4% – 20% yang ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya (IQ).
Gay Hendrick, PhD dan Kate Ludeman, PhD, keduanya konsultan manajemen senior, mengadakan sebuah penelitian pada 800-an manajer perusahaan yang mereka tangani selama 25 tahun. Dari hasil penelitian disimpulkan, bahwa para pemimpin yang sukses ternyata lebih mengamalkan nilai-nilai rohaniah atau nilai-nilai sufistik ketimbang pengedepankan sisi intelektual semata.
Lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons, The Psychology of Ultimate Concerns: (1) kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material; (2) kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak; (3) kemampuan untuk mensakralkan pengalaman seharihari; (4) kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah; dan kemampuan untuk berbuat baik
Dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. perawat yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indrianya. Sebagai contoh perawat menyampaikan doa-doa personalnya dalam salat malamnya, mendoakan kesembuhan luka kliennya, memuali tindakan dengan bismillah, mengisi waktu luang dengan Sholat dluha, silaturahmi dengan keluarga klien.
Ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada abad pertengahan seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang mengangkut batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan muka cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan ceria, gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang Anda kerjakan?” Yang cemberut menjawab, “Saya sedang menumpuk batu.” Yang ceria berkata, “Saya sedang membangun menara mesjid!” Yang kedua telah mengangkat pekerjaan “menumpuk bata” pada dataran makna yang lebih luhur. Perawat yang sedang melakukan kompres selayaknya mengatakan “Saya sedang mensyukuri nikmat Allah
yang telah menganugerahkan air yang sangat banyak manfaatnya”
Perawat yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual seperti teks-teks Kitab Suci atau wejangan orang-orang suci untuk memberikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi. Pada saat ganti balutan ia mengingat bahwa jutaan mikroba sudah diciptakan Allah sebelum manusia mengetahui obatnya penicillin. Sebelum manusia lahir penicillinpun sudah diciptakan Allah. Jadi tugas perawat adalah berupaya memaknai bahwa mencari karunia Allah dalam membantu meringankan beban klien.
Ketika seorang perawat diberitahu bahwa orang kantornya tidak akan sanggup menyekolahkannya, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa kalau orang itu bersungguhsungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami”?
Karakteristik yang kelima: Perawat memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesame makhluk Tuhan. The fifth and final component of spiritual intelligence refers to the capacity to engage in virtuous behavior: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to display compassion and wisdom,” tulis Emmons. Memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terimakasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristik terakhir ini mungkin disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad saw, “Amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.”

Langkah menuju SQ yang Optimal

 “Kecerdasan Spiritual” disimbolkan sebagai Teratai Diri yang menggabungkan tiga kecerdasan dasar manusia (rasional, emosional, dan spiritual), tiga pemikiran (seri, asosiatif, dan penyatu ), tiga jalan dasar pengetahuan (primer, sekunder, dan tersier) dan tiga tingkatan diri (pusat transpersonal, tengah-asosiatif & interpersonal, dan  pinggiran-ego personal).
Hambatan spiritual yang akan Kita hadapi:
  • tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali
  • telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional,
  • bertentangannya / buruknya hubungan antara bagian-bagian.
Langkah Menuju Kecerdasan Spiritual Lebih Tinggi:
  • menyadari di mana saya sekarang,
  • merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah,
  • merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling dalam, (
  • menemukan dan mengatasi rintangan,
  • menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju,
  • (menetapkan hati saya pada sebuah jalan,
  • tetap menyadari bahwa ada banyak jalan.
  • Spiritual Intellegence yang optimal memiliki karakteristik, yaitu:
  • kemampuan bersikap fleksibel,
  • tingkat kesadaran diri tinggi,
  • kemampuan untuk menghadapi dan
  • memanfaatkan penderitaan,
  • kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit,
  • kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai,
  • keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu,
  • kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik)
  • kecenderungan nyata untuk bertanya “Mengapa?” atau “Bagaimana jika?” untuk mencari jawaban yang mendasar,
  • memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Peranan iq eq-sq dlm perilaku kerja — Document Transcript

  • Oleh: Drs. Nur KholiqAbstrak:Masyarakat pada umumnya selalu berorientasi kepada material yang mengedepankankecerdasan intelektual dalam meraih kesuksesan hidup, kesuksesan dalam kerja, dan karir.Kesuksesan, kekayaan dianggap milik dari orang-orang yang berintelektual tinggi. Kajian-kajian ilmiah di bidang kecerdasan berbasis “neuroscience”menggolongkan kecerdasanmanusia dalam tiga wilayah yakni Intelegency Quotient, Emotional Quotient, dan SpiritualQuotient. Kemampuan menyeimbangkan ketiga kecerdasan ini akan membentuk manusia-manusia yang tangguh dan berprestasi dalam dunia kerja.Kata Kunci: Kecerdasan, Intelegency Quotient, Emotional Quotient, Spiritual Quotient,Perilaku Kerja.PendahuluanPada dasarnya manusia diciptakan dengan membawa unsur-unsur kecerdasan. Awalnyakecerdasan yang dipahami banyak orang hanya merupakan kecerdasan intelejensi (IntelegencyQuotient), sesuai dengan perkembangan pengetahuan manusia, maka ditemukan tipe kecerdasanlainnya melalui penelitian-penelitian empiris dan longitudinal oleh para akademisi dan praktisipsikologi, yakni kecerdasan emosional (emotional quotient) dan kecerdasan spiritual (spiritualquotient). Ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dapat berdiri sendiri untuk meraih kesuksesandalam bekerja dan kehidupan. Kesuksesan paripurna adalah jika seseorang mampu menggunakandengan baik ketiga kecerdasan ini, menyeimbangkannya, serta mengaplikasikannya dalamkehidupan. Bagi para pekerja dalam lingkungan organisasi manapun ketiga bentuk kecerdasanini adalah sesuatu yang mutlak harus dimiliki, kesuksesan dalam karir tidak hanya dimiliki olehkaryawan-karyawan yang berintelejensi tinggi saja, namun semua orang dapat meraihkesuksesan karir, dan memperoleh tempat terbaik dalam bekerja.Tiga Bentuk Kecerdasan Manusia Model-model kecerdasan yang kini dikembangkan dalamdunia psikologi mendasarkan argumen-argumennya pada temuan-temuan ilmiah dari studi danpenelitian neuroscience. Mulai dari model kecerdasan konvensional (Intelegency Quotient),kecerdasan emosional (Emotional Quotient), hingga model kecerdasan ultimat yakni kecerdasanspiritual (Spiritual Quotient). Seluruhnya masih menjelaskan kesadaran manusia dengan segenapaspek-aspeknya sebagai proses-proses yang secara esensial berlangsung pada jaringan syaraf(Adhipurna, 2001; Pasiak, 2002). Meski respon kritis secara teoritik atas penaksiran kecerdasanberbasis IQ ini telah muncul sejak sebermula awal masa kelahirannya, namun baru satu dekadeakhir abad ini kita mengenal suatu rumusan-rumusan psikologi populer yang mengemaskontribusi-kontribusi studi dan riset dari para penyelidik kecerdasan sebelumnya dengan cukupbaik. Dalam awal tahun 1990-an kita mengenal istilah Emotional Intelligence diusulkan olehDaniel Goleman. Belakangan ini menjadi populer pula istilah Spiritual Intelligence, yangdiusulkan oleh pasangan Danah Zohar dan Ian Marshall. Meski secara esensial tidak terdapatsebuah terobosan ilmiah yang betulbetul baru dalam gagasan-gagasan mereka ini, namun parapakar ini telah berhasil mensintesiskan, mengemas, dan mempopulerkan sekian banyak studi danriset terbaru di berbagai bidang keilmuan ke dalam sebuah formulasi yang cukup populer untukmenunjukkan bahwa aspek kecerdasan manusia ternyata lebih luas dari sekedar apa yang semulabiasa kita maknai dengan kecerdasan.Kecerdasan pertama, adalah IQ merupakan kecerdasan seseorang yang dibawa sejak lahir danpengaruh didikan dan pengalaman (Thoha, 2000). IQ adalah kemampuan yang diperlukan untukmenjalankan kegiatan mental (Robin, 1996).Unsur-unsur yang terdapat di dalam IQ adalah:kecerdasan numeris, pemahaman verbal, kecepatan perseptual, penalaran induktif, penalarandeduktif, visualisasi ruang, ingatan (Robin, 1996). Menurut David Wechsler (Staff IQ-EQ),inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan
  • menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwainteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkandari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Intikecerdasan intelektual ialah aktifitas sebagian kecil otak. Otak adalah organ luar biasa dalam dirimanusia. Beratnya hanya sekitar 1,5 Kg atau kurang lebih 5 % dari total berat badan kita. Namundemikian, benda kecil ini mengkonsumsi lebih dari 30 persen seluruh cadangan kalori yangtersimpan di dalam tubuh. Otak memiliki 10 sampai 15 triliun sel saraf dan masing-masing selsaraf mempunyai ribuan sambungan. Otak satu-satunya organ yang terus berkembang sepanjangitu terus diaktifkan. Kapasitas memori otak yang sebanyak itu hanya digunakan sekitar 4-5 %dan untuk orang jenius memakainya 5-6 %. Sampai sekarang para ilmuan belum memahamipenggunaan sisa memori sekitar 94 % (Umar, 2002).Kecerdasan kedua, Emotional Quotient (EQ) merupakan kemampuan merasakan, memahami,dan secara efektif menerapkan daya serta kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi,koneksi, dan pengaruh yang manusiawi (Cooper dan Sawaf, 1998). Peter Salovey dan JackMayer mendefenisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan,meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan danmaknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembanganemosi dan intelektual (Stein dan Book, 2002). Goleman mempopulerkan pendapat para pakarteori kecerdasan bahwa ada aspek lain dalam diri manusia yang berinteraksi secara aktif denganaspek kecerdasan IQ dalam menentukan efektivitas penggunaan kecerdasan yang konvensionaltersebut. Ia menyebutnya dengan istilah kecerdasan emosional dan mengkaitkannya dengankemampuan untuk mengelola perasaan, yakni kemampuan untuk mempersepsi situasi, bertindaksesuai dengan persepsi tersebut, kemampuan untuk berempati, dan lain-lain. Jika kita tidakmampu mengelola aspek rasa kita dengan baik, maka kita tidak akan mampu untukmenggunakan aspek kecerdasan konvensional kita (IQ) secara efektif, demikian menurutGoleman (Adhipurna, 2001). Penelitian tentang EQ dengan menggunakan instrumen BarOn EQ-i membagi EQ ke dalam lima skala: Skala intrapersonal: penghargaan diri, emosional kesadarandiri, ketegasan, kebebasan, aktualisasi diri; Skala interpersonal: empati, pertanggungjawabansosial, hubungan interpersonal; Skala kemampuan penyesuaian diri: tes kenyataan, flexibilitas,pemecahan masalah; Skala manajemen stress: daya tahan stress, kontrol impuls (gerak hati);Skala suasana hati umum: optimisme, kebahagiaan (Stein dan Book, 2002).Kecerdasan ketiga, adalah Spiritual Quotient (SQ), Zohar dan Marshall mengikutsertakan aspekkonteks nilai sebagai suatu bagian dari proses berpikir/ berkecerdasan dalam hidup yangbermakna, untuk ini mereka mempergunakan istilah kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient/SQ)(Zohar dan Marshal, 2000). Indikasiindikasi kecerdasan spiritual ini dalam pandangan merekameliputi kemampuan untuk menghayati nilai dan makna-makna, memiliki kesadaran diri,fleksibel dan adaptif, cenderung untuk memandang sesuatu secara holistik, sertaberkecenderungan untuk mencari jawaban-jawaban fundamental atas situasi-situasi hidupnya,dan lain-lain. Bagi Zohar spiritualitas tidak harus dikaitkan dengan kedekatan seseorang denganaspek ketuhanan, sebab menurutnya seorang humanis ataupun atheis pun dapat memilikispiritualitas tinggi. Agustian (2001a) memberikan makna bertentangan dengan nilai DanahZohar, yang menyatakan SQ terkait dengan masalah ketuhanan atau agama. Kecerdasan manusiaterwujud karena adanya dorongan suara hati (fitrah) yang bersumber dari Allah dengan unsur-unsur sifat Tuhan atau God-Spot, menjadikan manusia memiliki ketangguhan pribadi danketangguhan sosial dalam mewujudkan kesuksesan manusia.Spiritual Quotient menurut pemikiran sekuler belum mampu memberikan makna menyeluruhkepada manusia. Kemampuan untuk menghayati nilai dan makna-makna, memiliki kesadarandiri, fleksibel dan adaptif masih terbatas kepada kemampuan diri sendiri yang suatu saat dapathilang tanpa kepercayaan dan keyakinan kekuatan transedental yang memberikan energi bagimanusia. Kesadaran bahwa hidup manusia ada yang mengatur, dapat memberikan power cukupbesar yang berpengaruh kepada manusia dalam kondisi apapun, baik kondisi normal maupun
  • kondisi pada saat manusia dihadapkan pada masalah-masalah kehidupan. Agustian (2001a)menggambarkan kecerdasan emosional dan kecerdasan berfungsi secara horizontal, yakniberperan hanya kepada hubungan manusia dan manusia, sedangkan kecerdasan spiritual adalahkecerdasan vertikal berupa hubungan kepada Maha Pencipta. Penggabungan ketiga hal ini akanmenghasilkan manusia-manusia paripurna yang siap menghadapi hidup dan menghasilkan efekkesuksesan atas apa yang dilakukannya. Ketiga bentuk kecerdasan yang dibahas di atas (IQ, EQ,dan SQ), mempunyai akarakar neurobiologis di otak manusia. Fakta menyatakan bahwa otakmenyediakan komponen anatomisnya untuk aspek rasional (IQ), emosional (EQ), dan spiritual(SQ). Ini artinya secara kodrati, manusia telah disiapkan dengan tiga aspek tersebut (Pasiak,2002). Kecerdasan emosional ada di sistem limbik, alias otak dalam, yang terdiri dari thalamus,hypothalamus dan hippocampus. Kecerdasan intelektual ada di korteks serebrum atau otak besar.Sedangkan kecerdasan spiritual mempunyai dasar neurofisiologis pada osilasi frekuensi gamma40 Hertz yang bersumber pada integrasi sensasi-sensasi menjadi persepsi obyek-obyek dalampikiran manusia (Zohar dan Marshall, 2000).Peran IQ, EQ dan SQ dalam Dunia KerjaKecerdasan Intelejensi.Keberhasilan manusia menurut pendapat umum dipengaruhi oleh peran besar kecerdasanintelegensi atau IQ. Artinya hanya mereka yang memiliki kecerdasan intelektual, akademis,matematis saja yang mampu mewujudkan keberhasilan seseorang termasuk keberhasilan dalampekerjaan. Kepintaran banyak dimanfaatkan dalam dunia kerja misalnya dalam level manajemenatas sebagai pihak perencana strategis yang akan menentukan nasib organisasi di masa depan.Kemampuan untuk menyusun program-program jangka panjang, prediksi ke masa depan,menyusun perkiraan-perkiraan strategis, memerlukan kemampuan intelektual tinggi untukkeperluan analisis-analisis mendalam. Hal ini memerlukan intelejensi baik agar segala yangingin diraih dapat terwujud dengan efektif. Demikian juga untuk manajemen teknis danoperasional diperlukan kemampuan yang tinggi untuk mensukseskan program-program strategisyang telah disusun oleh top manajemen. Kebanyakan perusahaan memanfaatkan orang-orangyang ber-IQ tinggi dengan memanfaatkan seleksi awal berupa tes kecerdasan intelejensi.Harapan dari perlakuan seleksi seperti ini adalah memperoleh tenagatenaga yang berkualitasyang dapat membangun perusahaan ke arah pencapaian kinerja tinggi. Banyak dari mereka yangberhasil lulus dalam seleksi berbasis IQ ini memiliki kinerja yang tinggi dan mendapat karir baikdalam pekerjaannya. Dengan demikian menurut teori kecerdasan kognitif, bahwa IQ seseorangberpengaruh positif terhadap kesuksesan di dalam bekerja dan berkarir. Walaupun IQ adalahtolak ukur dari kepintaran seseorang, IQ bukan merupakan satu-satunya indikator kesuksesan.IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat teskecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasanseseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan (IQ-EQ, 2002).Untuk itu seseorang yang ber-IQ tinggi, belum tentu mutlak akan berhasil memecahkanpermasalahan-permasalahan di dalam dunia kerja yang kompleks, tetapi perlu adanya sisi cerdaslain dari diri karyawan tersebut.Kecerdasan Emosional.Goleman seorang peneliti ilmu-ilmu perilaku dan otak, Doktor dari Harvard University,menyatakan bahwa IQ hanya berpengaruh 5-10 % terhadap keberhasilan, sisanya adalah faktorkecerdasan lain. Lebih lanjut Goleman menyatakan faktor kecerdasan penting yang lain tersebutadalah Emotional Quotient (EQ) (Goleman, 2002). EQ berorientasi kepada kecerdasan mengelola emosi manusia. Di dalamnya terdapat unsur kemampuan akan kepercayaan diri sendiri, ketabahan, ketekunan, menjalin hubungan sosial. Jika pekerja memiliki kecerdasan rata-rata, sebenarnya ia dapat meraih prestasi kerja yang tinggi jika adanya kepercayaan terhadap diri sendiri, tidak terlalu tergantung kepada orang lain, ketabahan menghadapi beban kerja, ketekunan dalam bekerja,
  • melakukan kontak-kontak sosial dalam kerja, akan merubah posisi seorang yang semula berprestasi rata-rata menuju tingkat prestasi yang lebih baik. Sebuah penelitian pada hampir 42.000 orang di 36 negara dan mengungkapkan hubungan positif antara kecerdasan emosional dan kesuksesan dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan (Stein dan Book, 2002). Ini menunjukkan bahwa seorang karyawan juga akan berhasil jika di dalam diri mereka terbentuk nilai-nilai EQ yang tinggi. Penelitian-penelitian lain menunjukkan bahwa IQ dapat digunakan untuk memperkirakan sekitar 1-20 % keberhasilan dalam pekerjaan, EQ di sisi lain berperan 27-45 % berperan langsung dalam keberhasilan pekerjaan. Jan Derksen dan Theodore Bogels di Belanda dari hasil penelitiannya diperoleh bahwa ada hubungan yang signifikan yakni orang-orang yang ber-EQ tinggi dengan kemampuan menghasilkan banyak uang (Stein dan Book,2002). Penciptaan kesadaran akan EQ ini seperti merupakan penciptaan akan aspek afeksi karyawan untuk siap terjun dalam dunia kerja yang penuh dengan tantangan dan kompetisi tinggi, stress, sehingga memerlukan pengelolaan emosional yang baik. Seorang pakar sekaligus pengamat sumber daya manusia, Parlindungan Marpaung memberikan solusi untuk mengelola emosional dalam bekerja (Marpaung, 2002). Ketika tuntutan EQ menjadi fokus utama dalam pemberdayaan karyawan dalam rangka jenjang karier seseorang maupun pengembangan pribadinya, tentu menjadi satu hal yang menakutkan bagi seseorang setelah dia menyadari bahwa EQ-nya tidak terlalu menonjol. Satu hal yang paling berbahaya adalah ketika seseorang tidak menyadari bahwa EQ-nya sangat dangkal dan bangga dengan gelar/pengetahuan yang dimilikinya (IQ). Oleh karena itu, perlu beberapa langkah praktis untuk membangkitkan kesadaran ini dan meningkatkan kecerdasan emosi menuju kecakapan emosi yang maksimal ditempat kerja. EQ tidak ada yang permanen, dalam arti kata dapat diubah (ditingkatkan) daninilah tekad pertama untuk memulai langkah pertama. Pertama, mengenal kekuatan dan kelemahan diri terutama dalam berhubungan dengan orang lain. Beberapa cara dapat dilakukan, di antaranya dengan meminta feedback (umpan balik) dari orang lain (terutama rekan terdekat) tentang tingkah lakunya selama ini. Tingkah laku yang sudah proporsional dipertahankan dan ditingkatkan, sementara yang dirasa kurang dan tidak profesional sebagai seorang karyawan/pimpinan harus diubah (transformasi diri). Kedua, bergaul dan berelasi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan karakter. Seringkali kita terjebak dalam relasi yang menyenangkan, hanya bergaul dengan orang-orang sepaham, bebas konflik, dan alergi dengan perbedaan pendapat. Ketiga, belajar setia dan komit terhadap tugas-tugas yang sudah disepakati bersama serta dilakukan dengan konsisten. Bahkan, tidak hanya itu, dengan mencoba "menantang" diri sebenarnya kita sedang berusaha mengatur diri dengan optimal. Misalnya, jika kesepakatan untuk sales target bulan ini 250 juta, buat "kesepakatan" diri sales target-nya sebesar 300 juta. Jangan cepat puas dengan pencapaian yang sesuai dengan apa yang sudah disepakati. Berilah dirilebih (go the extramiles), kita pun akan memperoleh nilai diri lebih dalam performance appraisal. Keempat, kurangi waktu untuk sibuk mengurusi orang lain, apalagi memiliki kegemaran menyebar gosip dan rumor di kantor. Kegemaran ini justru akan menyerap energi kita yang semestinya dapat dipergunakan untuk mengembangkan kecerdasan emosi tersebut. Hanna (1997) mengatakan bahwa aktivitas demikian justru akan menurunkan rekening bank harga diri kita. Kelima, bertingkah laku asertif, nyatakan benar kalau benar dan salah jika salah. Hal itu dilakukan tentu berdasarkan koridor-koridor dan track etika perusahaan yang profesional. Karyawan/pimpinan yang safety player demi menyelamatkan kedudukan/ fasilitas yang dimilikinya dan membiarkan kondisi yang merusak tatanan perusahaan tetap berlangsung menunjukkan kekerdilan kecerdasan emosinya. Keenam, keep learning, terus belajar baik melalui pengalaman pekerjaan sehari-hari, membaca buku pengembangan diri, mengikuti pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan yang sifatnya soft skill. Tidak ada kata tamat untuk belajar karena melalui media inilah kita dapat memosisikan diri dalam self continous improvement. Ketujuh, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dalam doa permohonan dan ucapan syukur. Kita adalah ciptaan-Nya, sudah sepatutnya kembali kepada Sang Pencipta untuk memohon

  • dalam kerendahan hati agar Dia mengubahkan kita. Tak lupa tetap mensyukuri nikmat danberkat yang sudah kita terima hingga saat ini.Ibarat pesawat yang sedang take off danmemerlukan power (kekuatan) besar, demikian pula kita akan memerlukan energi yang besar dandisertai tekad yang bulat untuk mentransformasi diri untuk peningkatan kecerdasan emosi.Ketika benih kemauan sudah mulai bertunas, bentangkan jalan-jalan indah yang akan kita laluiuntuk menjadi lebih baik.BC. Forbes (Founder Forbes) pernah mengemukakan bahwa bekerja merupakan hidangan utamakehidupan, sedangkan kesenangan merupakan hidangan penutup. Lebih memuaskan menjadisopir truk no. I, daripada jadi eksekutif peringkat kesepuluh.Kecerdasan Spiritual.Nilai-nilai SQ juga berperan penting akan pembentukan prestasi kerja secara umum. Kesalahanselama ini adalah pendewaan akan IQ walau sebenarnya terdapat kecerdasan lain yang perlu diseimbangkan untuk sebuah kesuksesan. Sekularisasi pemikiran masyarakat mengarahkan orang-orang untuk mengejar kesuksesan secara fisikal dan material, seperti karier, jabatan, kekuasaan, dan uang. Orientasi materi dan pemisahan seperti ini dapat menjadi sebab tumbuhnyapemikiran pesimisme bagi mereka yang memiliki kecerdasan rata-rata, lalu melakukan tindakantidak etis untuk meraih sebuah kesukesan material.Kesombongan dapat terjadi bagi mereka yang berintelektual tinggi atau mereka yang pintar,tidak menghargai bawahan jika menjadi pemimpin. Kondisi lain, mereka yang terlibat dalamkehidupan material baik bagi yang pintar ataupun tidak, adalah kemudahan untuk tidak bisabertahan akan benturan permasalahan kerja, mudah frustasi, stress akibat tidak adanyakeseimbangan spiritual di dalam diri manusia-manusia modern. Untuk itu kecerdasan spiritualperlu ada di dalam diri seseorang dalam meraih kesuksesan. Danah Zohar dan Ian Marshalmengartikan SQ sebagai pemahaman akan nilai dan kesadaran, Agustian (2001a)mengkaitkannya dengan masalah ketuhanan. Seorang karyawan perlu menyadari nilai-nilaikehidupan yang integralistik tidak hanya pada masalah material tapi juga spiritual. Intinyabekerja adalah penting bagi kehidupan dan merupakan ibadah bagi yang melakukannya. Seorangkaryawan yang pintar tetap memerlukan SQ, atau jika kemampuan seseorang kurang dapatditutupi dengan keyakinan adanya Allah yang menolong yakni pada saat keikhlasan bekerja adadi dalam diri. Aspek fisiknya, prestasi hanya dapat dicapai hanya dengan bekerja keras,ketekunan, ketabahan ditambah dengan IQ yang ada pada diri seseorang. Dalam seminarnasional bertajuk "Spiritual Quotient, Cerdas Akal-Cerdas Hati-Cerdas Nurani" di UniversitasMuhammadiyah Surakarta (UMS) di Solo, Agustian (2001b) menjelaskan, ketika memasukirutinitas kerja sehari-hari, manusia sering lupa menyatukan pikiran dan hati, sehingga mengalamisplit personality (kepribadian terpecah) dan sulit memaknai hasil kerjanya sendiri. Kitacenderung mengejar kemewahan, uang, pesta pora, dan kesuksesan dalam berbagai usaha, tetapilupa memaknai setiap hasil usaha dan perilaku kita. Oleh karena itu, kita membutuhkanemotional spiritual quotient (ESQ) sebagai bekal untuk menyatukan intelligent quotient (IQ) danemotional quotient (EQ).PenutupKesimpulannya bahwa mengabaikan salah satu dari ketiga bentuk kecerdasan berbasisneuroscince di atas adalah sesuatu kekeliruan, demikian juga jika mengagungkan salah satudiantaranya merupakan kesalahan. Pentingnya keseimbangan ketiga kecerdasan ini untukmenjadi seorang yang paripurna, memiliki dorongan yang kuat untuk meraih prestasi kerjatinggi. Sekolah-sekolah maupun perusahaan-perusahaan perlu menciptakan kesadaran akankeseimbangan ini kepada pegawai dan karyawan-karyawannya melalui pelatihan-pelatihan ESQ,untuk menciptakan produktivitas kerja tinggi, loyalitas tinggi, sehingga produktivitas sekolahatau perusahaan dapat lebih ditingkatkan dari saat ini

0 komentar:

Posting Komentar